Modern Love: Teknologi dan Percintaan Modern
Kalau anda adalah penggemar Stand Up Comedy, harusnya anda sudah tidak asing lagi dengan nama Aziz Ansari. Aziz, komika American-Indian ini, memiliki karir yang cukup mentereng. Tour comedy-nya ditonton ratusan ribu orang dan video stand up nya telah ditonton jutaan kali di dunia maya. Di dalam pertunjukan stand up comedy nya, Aziz kerap kali membicarakan tentang pengalaman percintaan-nya yang seringkali berakhir malang dan juga pengalaman hidupnya sebagai kaum minoritas di Amerika: mulai dari rasisme hingga orang tua. Kontribusi Aziz terhadap komunitas minoritas inilah yang sukses membawanya masuk daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia pada tahun 2016 menurut majalah Times.
Tidak puas berkarir di dunia hiburan, pada tahun 2015 Aziz Ansari mengepakkan sayapnya ke dalam dunia literatur dengan meluncurkan buku yang berjudul Modern Romance: An Investigation bersama professor New York University (NYU), Eric Klinenberg. Di dalam buku debutan nya, Aziz berbicara tentang isu yang seringkali menjadi topik di dalam stand up comedy nya, yakni cinta dan mendiskusikan efek perkembangan teknologi terhadapnya.
Berdasarkan pengamatan Aziz, dating culture atau budaya pacaran telah berganti secara substansial dengan adanya teknologi. Bukan hanya karena Tinder, Bumble, atau dating apps lainya yang sedang digandrungi anak muda saat ini, pergantian budaya bisa dilacak puluhan tahun yang lalu ketika komunikasi jarak jauh bisa dimungkinkan dalam waktu yang singkat. Tinder, walaupun memiliki dampak yang besar terhadap masyarakat, hanyalah bagian kecil dari sejarah bergantinya budaya percintaan di dunia.
Dahulu, surat hanyalah satu-satunya medium dimana sepasang kekasih yang terpisah jarak mampu berkomunikasi. Namun penemuan instant message merubahnya. Komunikasi jarak jauh memudahkan seseorang untuk menjalani Long Distance Relationship (LDR) Dahulu juga, kebanyakan orang menikah dengan orang yang berada di dalam lingkaran pergaulan-nya. Entah itu tetangga, kolega, atau teman-nya teman. Namun aplikasi dating seperti Tinder atau Match.com memperbolehkan kita untuk bertemu dengan orang yang kita tidak kenal, bahkan dengan orang yang ribuan kilometer jauhnya dan pada akhirnya bisa banyak kita temukan pasangan yang bertemu daring.Teknologi, menurut Aziz, telah memperbolehkan kita untuk melakukan hal-hal yang generasi orang tuanya tidak pernah bayangkan.
Namun sebenarnya bukan hanya teknologi yang mengubah kultur percintaan masyarakat, nilai hidup yang telah berganti pun berkontribusi banyak terhadap fenomena yang kita mungkin sadari ini dan berdayanya perempuan adalah salah satunya. Di dalam sejarah manusia wanita selalu dipandang inferior terhadap laki-laki. Di dalam The Odyssey karya Homer contohnya, Penelopiad terlihat kerdil dibanding suami-nya Odysseus. Tetapi, sekarang wanita menikmati hak-hak yang generasi sebelumnya tidak pernah bayangkan. Kini, perempuan memiliki hak yang sama atas edukasi, memilih, hukum dan bahkan menurut Journal Nature of Communications yang dipublikasi tahun 2016, perempuan cenderung memiliki nilai yang lebih baik di sekolah.
Secara tidak langsung, ketika pernikahan bukan lagi sebuah hubungan satu arah maupun transaksi selayaknya dahulu kala, melainkan hubungan yang mencakup dua orang yang saling mencintai dengan konsen, umur dimana orang menikah pun semakin tua. Hal ini disebabkan karena baik laki laki maupun perempuan ingin mengejar karir dan memiliki pilihan untuk menikah atau tidak.
Berbicara mengenai pilihan, ada yang menarik tentang hubungan modernisasi dan angka perceraian. Dahulu, seperti yang sudah saya katakan, pernikahan seringkali terjadi secara paksa dan transaktif. Namun dewasa ini, kita dihadirkan dengan banyak pilihan pasangan, lagi lagi berterima kasih terhadap online dating apps. Perempuan dan laki-laki pun tidak harus mengikuti keinginan orang tuanya dalam urusan siapa yang mereka ingin nikahi. Namun seperti yang buku ini tunjukkan, angka perceraian di Amerika Serikat meningkat secara tajam. Menurut pusat data statistik AS sekitar 40 sampai 50 persen pasangan berujung pada perceraian. Lantas apakah “demokratisasi” pernikahan berdampak buruk terhadap pernikahan secara umum? Entah hanya diri kita sendiri yang punya jawabanya.
Di buku ini, Aziz mencoba untuk menjauhkan bukunya dari kata Amerika Sentris dengan menghadirkan perspektif orang Jepang dan Argentina, buku Aziz kental sekali dengan budaya percintaan Amerika Serikat dan . Kendatipun demikian, Temuan Aziz dan Professor Eric pun cukup mengejutkan, walaupun jelas adanya perbedaan antara kultur Jepang dan Argentina, perkembangan teknologi membawa dampak yang sama besar-nya di kedua negara tersebut. Pria Jepang yang terkenal malu dan enggan memulai pembicaraan dengan wanita pun dihibur dengan maraknya alat bantu seks dan dating apps. Di samping itu, teknologi pun mengamplifikasi budaya pacaran di Argentina yang sudah terkenal beringas semakin beringas.
Lebih jauh, buku ini bukanlah sekadar banyolan seorang Aziz Ansari. Opini Aziz sering juga didampingi dengan data yang cukup mendetail dan insightful. Contohnya, ketika ia mengajak kita untuk meniru orang Perancis yang relatif lebih terbuka dan lebih realistis dalam melihat konsep Cinta, Aziz menunjukkan data bahwa orang Prancis memang lebih terbuka terhadap extramarital affair yang menurut Aziz normal. Pola opini kemudian data ini pun bisa kita saksikan di sebagian besar buku ini yang membuat buku ini spesial.
Berpindah dari konten, cara pembawaan Aziz Ansari memang yang paling “juara” di buku ini, gaya pembawaan yang lucu mempermudah pembaca untuk mencerna dan mengerti data-data yang disajikan nya. Diksi diksi yang digunakan Aziz pun sangat mudah, hampir sama seperti orang yang sedang ber-stand up-comedy. Uniknya, ketika saya membaca buku ini, saya seakan seperti didongengi oleh suara Aziz yang cempreng. Mungkin Aziz harus bikin audiobook buku ini dimana dia sendiri yang membacakan buku ini. Namun di sisi lain, gaya pembawaan yang lucu ini seperti “menodai” keseriusan dan pada beberapa momen membuat saya untuk tidak mengambil serius analisisnya.
Pada intinya, Aziz Ansari dan Professor Eric Klinenberg sukses membawa topik yang awalnya terlihat remeh temeh, mengenai tren bergesernya percintaan tradisional ke modern, menjadi sebuah riset yang penuh data yang tentunya, Komedik.
27-07-2020